Perebutan Dana Murah Syariah Semakin Ketat

Perebutan Dana Murah Syariah Semakin Ketat
KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Calon nasabah berkonsultasi mengenai produk reksa dana syariah di Kantor HSBC Amanah, Jakarta, Rabu (16/4). Meski relatif baru, produk reksa dana syariah mulai banyak dilirik nasabah sebagai alternatif untuk berinvestasi.

Rabu, 28 Mei 2008 | 11:37 WIB

JAKARTA, RABU – Perbankan syariah memang tak mengenal bunga. Namun tak berarti bisnis bankbank syariah tak Akan terpengaruh naik turunnya bunga acuan alias BI rate. Ambil contoh kenaikan BI rate menjadi 8,25 persen pada awal Mei kemarin. Kenaikan BI rate sedikit banyak akan mempengaruhi perbankan syariah.

Dari sisi pembiayaan misalnya. Tren bunga tinggi bisa melesukan kegiatan bisnis, termasuk usaha debitur bank syariah. Sementara akad pembiayaan antara debitur dengan bank syariah berupa bagi hasil. Bank syariah bisa saja meminta persentase bagi hasil yang lebih besar untuk menghindari penurunan bagi hasil. Namun permintaan itu bisa membuat debitur bank syariah berpaling ke bank konvensional.

Salah satu strategi yang ditempuh bank syariah agar yield pembiayaan tidak mengalami perubahan adalah menggenjot porsi dana murah yang berbentuk giro. dan tabungan. Selisih antara yield dana murah dan pembiayaan bakal memangkas beban bank. “Ini merupakan langkah efisiensi di saat BI rate naik,” kata Kepala Divisi BNI Syariah Ismi Kushartanto.

Saat ini dana masyarakat di BNI Syariah sebesar Rp 2,29 triliun, dengan komposisi 60 persen berbentuk dana murah dan 40 persen adalah dana mahal. Saat ini yiled dana mahal dengan bunga indikator berkisar 7,5 persen per tahun dan yield bunga murah berkisar 3 persen per tahun. Sedangkan yield pembiayaan dengan bunga indikator sebesar 14 persen – 15 persen per tahun.

Secara industri, nilai dana masyarakat per akhir Maret 2008 adalah Rp 29,55 triliun. Dana mahal berbentuk deposito mudharabah masilt mendominasi, senilai Rp 16,01 triliun atau setara 54,19 persen. Selebihnya adalah dana murah, berupa tabungan mudharabah dan giro wadiah masing-masing Rp 9,90 triliun dan Rp 3,63 triliun.

General Manager Divisi Bisnis Syariah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., Eko B Suharno menambahkan, bank syariah akan sulit bersaing apabila mengandalkan dana mahal. “Saat ini pelaku bisnis berlomba-lomba untuk memperbesar porsi dana murah,” kata Eko.

Hingga akhir Maret lalu, dana masyarakat di BRI Syariah senilai Rp 900 miliar dengan komposisi 40 persen dana murah dan 70 persen dana mahal. BRI Syariah berharap, bisa mengurangi dana mahalnya di masa mendatang. “Paling tidak, tahun depan bisa seimbang,” imbuh Eko.

Group Head Bank Niaga Syariah Ari Purwandono mengakui persaingan perbankan untuk mencari dana murah semakin ketat. “Yang tidak kebagian dana murah, mau tak mau harus mengambil dana mahal,” kata Ari.

Saat ini dana masyarakat di Niaga Syariah mencapai Rp 800 miliar dengan komposisi dana mahal sebanyak 60 persen dan dana murah sebesar 40 persen.
Bank syariah yang memiliki banyak dana mahal, tak punya jalan selain menaikkan yield pembiayaan. “Kenaikan. yield berkisar 0,5 persen hingga 1 persen per tahun,” ungkap Ari. (Nur Agus Susanto)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: