Pangsa Pasar BMT Masih Terbuka Lebar

Jumat, 29 Mei 2009 pukul 01:56:00
Pangsa Pasar BMT Masih Terbuka Lebar

Portofolio pembiayaan BMT yang lebih kecil dibanding lembaga keuangan lain membuat BMT dapat tetap bersaing.

JAKARTA — Seiring dengan perbankan syariah yang mulai memasuki sektor keuangan mikro, BMT sebagai lembaga yang selama ini fokus ke sektor tersebut akan langsung berhadapan dengan bank syariah. Kondisi krisis ekonomi global yang terjadi membuat sektor mikro dilirik banyak pihak.

Namun, CEO Permodalan BMT, Saat Suharto mengatakan, pangsa pasar untuk jumlah pembiayaan yang selama ini menjadi fokus BMT masih sangat terbuka lebar. Pasalnya, portofolio pembiayaan BMT yang lebih kecil dibanding lembaga keuangan lain membuat BMT dapat tetap bersaing.

”Ada beberapa pengusaha yang hanya dapat dibiayai BMT dan hanya BMT yang sanggup dan memiliki sistem ke situ,” kata Saat kepada Republika, Kamis (28/5). Hal itulah, lanjutnya, yang menjadikan BMT institusi yang selalu diajak kerja sama untuk penyaluran lembaga keuangan lainnya.

BMT yang memiliki portofolio hingga di bawah Rp 1 juta dapat menjangkau usaha-usaha mikro yang membutuhkan dana sedikit. Ia memberi contoh bank yang masuk ke sektor mikro memiliki portofolio hingga jutaan bahkan puluhan juta rupiah, berbeda dengan BMT yang portofolionya lebih kecil.

Walau industri perbankan mulai memasuki sektor keuangan mikro, lanjut Saat, hal tersebut dapat dipandang positif dari sisi memberi supply terhadap kebutuhan pendanaan di sektor mikro. Namun, menurutnya hal yang harus diperhatikan adalah dapat hilangnya kompetensi inti dari perbankan yang ada.

Pasalnya, dengan bank masuk ke sektor mikro akan menjadikan bangunan keuangan Perbankan Indonesia terganggu karena tidak terjadinya fokus pada pembiayaan perbankan. ”Jadi semua dikerjakan dan pada akhirnya bentuk semua produk perbankan Indonesia akan mirip karena terjadinya product mirroring,” ujar Saat.

Selain itu, tambah dia, masuknya perbankan besar ke sektor mikro secara langsung juga akan mengakibatkan eksposur sektor mikro terhadap ekonomi global akan sangat tinggi. Hal tersebut pun akan membuat integrasi ekonomi mikro Indonesia dengan ekonomi global akan terjadi.

Seiring dengan itu, terang Saat, maka akan membawa pengusaha mikro dalam kerentanan yang tinggi. Padahal, sektor mikro menjadi tanggul penahan yang melindungi Indonesia dari tsunami krisis sekarang ini. ”Untuk itu para pengusaha mikro membutuhkan layanan yang disesuaikan dengan napas hidup dan penghidupan masyarakatnya,” imbuh Saat.

Demi memenuhi kebutuhan tersebut, lanjutnya, maka pada tiap komunitas harus dikembangkan layanan-layanan unik yang merupakan jawaban dari kebutuhan masyarakatnya. Untuk itu dibutuhkan lembaga keuangan berbasis komunitas yang hidup dan berkembang serta memiliki jawaban atas kebutuhan warga terhadap produk keuangan. ”Selain itu lembaga tersebut juga memiliki sumber keuangan dari atau bekerjasama dengan lembaga-lembaga keuangan besar dalam skala nasional,” ujar Saat.

Menurut Saat, tantangan riil BMT sekarang ini adalah bagaimana BMT menjadi lembaga keuangan yang konsisten memberikan pembiayaan mikro mengingat proporsi pembiayaan ke sana masih sangat sedikit dalam keseluruhan portofolio keuangan di Indonesia. Selain itu, lanjutnya, secara konsisten memberikan pembiayaan untuk sektor-sektor usaha produktif dan mampu menjalankan fungsi intermediary dengan benar dan bertanggung jawab.

Miliki keunggulan
Direktur BMT Bina Ihsanul Fikri, M Ridwan mengatakan, dalam menghadapi persaingan dengan bank dan lembaga keuangan lain yang masuk ke sektor mikro BMT lebih memiliki keunggulan. ”BMT punya kedekatan dengan anggotanya, bisa duduk sambil makan bareng, sementara kalau bank tidak bisa melakukan itu,” kata Ridwan.

Dengan kedekatan personal itulah maka BMT bisa memberikan perhatian lebih kepada anggotanya. Selain itu layanan BMT pun lebih luas hingga masuk ke pelosok.

Meski demikian, lanjutnya, agar tak terjadi persaingan secara langsung sebaiknya bank besar membuat jaringan dan bekerja sama dengan BMT. ”BMT yang menjadi ujung tombak, sedangkan bank cukup menyalurkan melalui BMT,” kata Ridwan. Untuk itu jaringan dan kerja sama dengan lembaga keuangan lainnya perlu ditingkatkan.

Walau saat ini perbankan mulai marak masuk ke sektor mikro, ia mengungkapkan saat ini pihaknya belum terlalu terpengaruh secara langsung dengan kehadiran unit mikro bank besar. Tercatat setiap bulannya BMT Bina Ihsanul Fikri dapat menyalurkan rata-rata pembiayaan sebesar Rp 1,2 miliar di tahun ini. Memasuki 2009 BMT ini memiliki target pembiayaan Rp 13,3 miliar, aset meningkat menjadi Rp 18,6 miliar, funding Rp 9,5 miliar, dan laba Rp 196 juta. gie

(-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: